Mungkin ini salah satu proses pendewassanku, saat semuanya menghilang..
Dia, yang selalu mengisi kekosonganku.
Dia, yang selalu ada untukku.
Dia, yang selalu aku sia-siakan
Dia, yang selalu tidak pernah aku anggap
Dia, yang selalu aku khianati
Dia, yang selalu menunggu aku pulang
Dia, yang selalu menungguku kembali
Dia, yang selalu siap menyambutku
Dia, yang selalu setia
Dia, yang selalu mencintaiku sepenuh hatinya
Dia, yang sampai puncaknya.
Dia, yang sampai batas kemampuanya
Dia, yang mencoba menghapus memori tentang aku
Dia, yang berusha bangkit dari keterpurukannya karna aku
Dia, yang bisa menghargai aku
Dia, yang sosoknya selalu menjadi seperti cerminan ayahku
Dia, yang caranya selalu mirip dengan ayahku
Dia, yang dari caranya sama saat ayaku mengingatkanku
Dia, yang saat marah sama sekali mirip dengan ayahku
Dia, yang bisa menghargai apapun usahaku
Dia, yang selalu menyanjungku
Dia, yang selalu memanjakanku
Dia, yang selalu membuatku merasa jadi wanita satu-satunya
Dia, yang siap menjaga di hari-hariku
Dia.. Cuma dia
Tak perna sekalipun aku menemui sosok sepertinya, kecuali ayahku.
Aku, yang selalu mengidolakan ayahku
Aku, yang diam-diam menyimpan cinta yang besar untuknya
Aku, yang tidak pernah sadar betapa aku membutuhkannya
Dia.. dia yang paling berharga selain ayahku
Dia..
Randika D. Setyanugraha
*sebuah kisah klasik

No comments:
Post a Comment